Sebuah Pledoi untuk Simon McMenemy

Simon McMenemy

Tiga gol bersarang ke gawang Andritany Ardhyasa dalam pertandingan kontra Thailand. Tiga gol yang menghempaskan Pasukan Garuda masuk ke dalam tanah. Setelah pada pertandingan sebelumnya, Harimau Malaya melompat tinggi dan mencakar Garuda jatuh ke tanah. Posisi Simon McMenemy di ujung tanduk.

Dilansir dari Bola Nusantara, Indonesia menelah dua kekalahan di laga pembuka Kualifikasi Piala Dunia 2022 dan tentu mengecewakan. Apalagi kekalahan pertama dari Malaysia. Diakui atau tidak, satu-satunya kesempatan besar meraih tiga poin penuh di kandang sendiri adalah saat melawan Malaysia. Layakkah Simon McMenemy dipertahankan?

Tiga lawan Indonesia yang lain, Thailand, Vietnam, dan Uni Emirat Arab memiliki kualitas yang jauh di atas Indonesia. Thailand mencukur Indonesia 3-0 di pertandingan kedua.

Vietnam, meskipun kita sering menang melawan mereka, saat ini berada dalam periode yang sangat bagus. Mereka menahan imbang Thailand di kandang lawan. Sementara satu-satunya tim asal Timur Tengah, Uni Emirat Arab, baru saja mengalahkan Malaysia di kandang sendiri.

Sontak, hal ini membuat jutaan pendukung Timnas Indonesia gerah. Pelatih Indonesia, Simon McMenemy menjadi sasaran tembak. Sasaran yang wajar ketika dia bertugas sebagai pelatih Indonesia.

Tapi, haruskah Simon menanggung segala dosa Timnas Indonesia itu sendirian? Tidak adakah pihak lain yang juga menjadi tersangka?

Manajemen Jadwal Liga yang Amburadul

Jika ada pihak paling cocok untuk disalahkan adalah para pembuat jadwal Liga 1 2019. Sebagai orang yang sering bertemu Simon – setidaknya dalam seminggu terakhir – eks Pelatih Bhayangkara FC itu selalu mengeluhkan jadwal Liga 1 2019.

“Pertandingan di Liga Indonesia 3 kali selama seminggu sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan. Tapi, ketika kita mengadakan pemusatan latihan, kami menerima mereka (para pemain) dalam kondisi yang kelelahan. Capek.”

Kalimat di atas diucapkan oleh Simon McMenemy sesaat setelah Indonesia kalah dari Malaysia. Alasan itu menjadi masuk akal karena memang jadwal kita amburadul.

Timnas Indonesia menjalani pemusatan latihan (TC) ketika Liga 1 2019 masih berjalan. Beberapa pemain juga sempat terlambat mengikuti TC karena masih bertanding di klubnya masing-masing.

“Stefano Lilipaly datang ke pemusatan latihan setelah memainkan banyak pertandingan. Juga ketika Ricky (Fajrin) cedera, itu adalah dampak dari kelelahan dan membuat kita harus mengganti dia dengan pemain baru, Ruben Sanadi.”

Dua pemain yang disebutkan oleh Simon McMenemy adalah dua pemain kunci Timnas Indonesia. Lilipaly adalah kunci dari segala aliran bola di lini tengah. Ricky Fajrin posisinya di bek kiri tak tergantikan. Sialnya, kedua pemain ini datang ke Bogor – tempat pemusatan latihan – dalam keadaan tidak fit.

Mari kita memutar ingatan sejenak ke awal tahun. Berapa kali PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) mengubah jadwal sepak mula Liga 1 2019? Segala ketidakpastian itu berbuntut panjang. Liga 1 2019 harus selesai sesuai jadwal. Otomatis, demi bisa selesai sesuai jadwal, yang dilakukan adalah memadatkan jadwal pertandingan.

Layakkah Suporter Disalahkan?

Salah satu argumen absurd yang muncul ketika kalah dari Malaysia adalah, “Bagaimana Timnas Indonesia mau menang kalau suporternya rusuh.” Argumen yang terbantahkan dengan sendirinya ketika bersua Thailand.

Suporter Indonesia berubah yang awalnya sosok yang menakutkan, menjadi sosok yang baik hati saat melawan Thailand. Suporter Indonesia, bahkan “membantu” Thailand saat viking clap. Pokoknya, riwayat buruk suporter Indonesia tak terlihat saat melawan Thailand.

Hasilnya? Indonesia tetap kalah dengan skor yang lebih telak, 3-0. Artinya, menang atau kalah tidak ditentukan oleh suporter. Kecuali, pertandingan ditunda karena suporter dan AFC memutuskan untuk memberikan tiga poin cuma-cuma untuk tim lawan.

Suporter memiliki logika yang tidak bisa dipahami oleh orang awam. Atau bahkan oleh pencinta sepak bola sekali pun. Mereka memiliki fanatisme yang kadang berlebihan dan melewati batas.

Sudah saatnya untuk tidak memperlebar jarak dan jurang pemisah. Sudah saatnya berhenti menyalahkan suporter karena ada musuh yang jauh lebih berbahaya: federasi.

Simon Tak Sepenuhnya Bersih

Tidak menyalahkan Simon McMenemy bukan berarti membuat sang pelatih bersih. Sebagai pelatih, dari sisi taktik, ia adalah sosok yang paling layak untuk disalahkan.

Sepak bola ibarat permainan catur. Sebuah keputusan dari pelatih, akan memengaruhi keputusan-keputusan selanjutnya. Ada aksi dan reaksi. Inilah mengapa taktik sepak bola memiliki tingkat kesulitan setara dengan permainan catur.

Saat melawan Thailand misalnya. Simon McMenemy menghindari benturan di lini tengah dengan memaksa bola dilempar ke sisi kanan dan kiri. Pada babak pertama, kondisi ini berhasil karena Thailand juga kesulitan untuk menembus pertahanan.

Situasi ini berbeda pada babak kedua. Simon tetap memainka pola yang sama, ketika Thailand bermain lebih melebar pada babak kedua. Lini tengah dikuasai Thailand. Mencoba bermain melebar, tapi Thailand mulai menyerang lewat sisi sayap.

Tekanan Thailand semakin kuat membuat garis pertahanan Indonesia semakin rendah. Setiap celah yang muncul di lini pertahanan, dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia.

Sejatinya, Simon McMenemy tidak sepenuhnya salah. Jika ada yang salah, adalah salah dari federasi: mengapa PSSI memecat Luis Milla dan menggantikannya dengan Bima Sakti, lalu Simon McMenemy?

Related Posts

Sebuah Pledoi untuk Simon McMenemy
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Untuk mendapatkan Artikel terbaru, masukkan alamat Email Anda di sini